Di pertengahan November 2024 lalu, ada sebuah pernyataan yang mengejutkan dari Tuhan: "Badai keuangan sudah datang ke Indonesia"! Pernyataan ini merupakan konfirmasi atas apa yang sudah saya rasakan dalam hati di pertengahan tahun 2024.
Pertengahan tahun lalu, ada kecurigaan dalam hati saya tentang apa yang mulai melanda ekonomi dan keuangan bangsa Indonesia, badai keuangan.
Kecurigaan saya makin kuat setelah berita tentang makin buruknya situasi ekonomi dan keuangan Indonesia terus bermunculan di berbagai media informasi. Ditambah pula dengan ulasan-ulasan para pengamat dan pakar ekonomi yang kredibel juga independen pun mengungkapkan bahwa, keadaan ekonomi/keuangan Indonesia tidak baik-baik saja.
Salahsatu bukti akan kehadiran badai keuangan di Indonesia adalah aksi PHK yang cenderung alami peningkatan signifikan.
TREND GELOMBANG PHK
Di tahun 2024, kita dikejutkan oleh maraknya aksi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di berbagai kota di Indonesia yang mengakibatkan menurunnya kekuatan keuangan masyarakat kelas menengah. Padahal mereka adalah tulang punggung perekonomian bangsa Indonesia.
Sampai hari ini, aksi PHK masih terus berlanjut. Seakan telah menjadi tren di dunia ekonomi/keuangan kita.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), sepanjang Januari hingga Desember 2024, jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 77.965 orang, meningkat dari 64.855 pada tahun sebelumnya. DKI Jakarta mencatat jumlah PHK tertinggi dengan 17.085 pekerja terdampak, diikuti oleh Jawa Tengah (13.130 pekerja) dan Banten (13.042 pekerja).
Sayangnya beberapa kebijakan pemerintahan Prabowo justru memperparah keadaan. Kebijakan-kebijakan tersebut pada akhirnya menghantam masyarakat kelas menengah juga bawah. Karena tidak memberikan rangsangan positif pada sektor usaha di Indonesia.
Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pengurangan subsidi, dan peningkatan premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), diperkirakan akan menekan daya beli masyarakat kelas menengah, yang menyumbang sekitar 84% dari konsumsi domestik. Dampak dari kondisi ini berpotensi memaksa industri untuk menyesuaikan produksi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan lonjakan jumlah PHK.
GELOMBANG PHK DALAM GEREJA
Belum lama seorang rekan saya, full timer (pelayan Tuhan sepenuh waktu) dari sebuah gereja besar di Jakarta bercerita bahwa ia terkena phk. Dalam tiga bulan secara bertahap, gereja tersebut mem-PHK banyak full timer nya, dan ada divisi pelayanan-nya yang ditutup. Bisa diperkirakan kekuatan keuangan gereja telah alami penurunan.
Bila direnungkan ... gereja diatas bisa jadi telah terkena 'efek domino' dari menurunnya kekuatan keuangan masyarakat kelas menengah. Bukankah banyak dari jemaat gereja adalah masyarakat kelas menengah?!
Bayangkan saja apa yang terjadi pada jumlah persembahan jemaat dari kalangan ekonomi ini. Ya ... Menurun cukup dalam. Akibatnya jumlah pemasukan gereja pun makin sedikit dan pekerjaan pelayanan gereja juga alami penurunan. Ada pelayanan-pelayanan gereja yang terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan. Bagaimana pun penurunan jumlah persembahan dari kalangan ekonomi menengah pasti berdampak pada pelayanan gereja.
BALA KELAPARAN DI ERA ALKITAB
Di Alkitab dicatat bahwa pada masanya baik itu di era perjanjian lama atau perjanjian baru pernah terjadi bala kelaparan yang skalanya mendunia. Di era perjanjian lama terjadi di masa Yusuf menjadi mangkubumi Mesir. Sedangkan di era perjanjian baru terjadi di jaman Klaudius.
Kejadian 41:57, "Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi."
Kisah Para Rasul 11:28, "Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius."
Yang menarik dari dua peristiwa kelaparan besar ini bentuk solusi yang diberikan Tuhan tidaklah sama. Jenis masalah-nya sama, bentuk solusi-nya berbeda. Hikmat Tuhan menuntun mereka masing-masing di masanya, membuat mereka tahu apa yang harus mereka lakukan di tengah bala kelaparan.
Pengkhotbah 10:10, "Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat."
Prinsip kerajaan Allah yang perlu diperhatikan disini adalah ... hikmat Tuhan membuat mereka berhasil menang atas masalah bala kelaparan yang dahsyat. Sekalipun badai keuangan bukan bala kelaparan, tapi untuk bisa alami kemenangan dan keberhasilan, dibutuhkan hikmat yang tepat.
Amsal 3:5, "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."
Masalahnya, banyak dari orang kristen masih cenderung menggunakan pengertiannya sendiri untuk mengatasi masalah hidupnya. Akibatnya mereka tidak kunjung berhasil.
Sudah urjen bagi kita untuk menyadari bahwa pengertian kita sendiri tidak akan menghasilkan jalan keluar. Sekaranglah saatnya kita membutuhkan hikmat Tuhan untuk badai keuangan yang sedang datang.
Mintalah hikmat dari Tuhan dalam doa dengan penuh iman maka Tuhan akan memberikannya pada kita.
Yakobus 1:5-6, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, ..."
Seorang pencari hikmat yang tekun dan penuh iman pasti akan mendapatkan hikmat pada waktunya sekalipun mungkin telah terkena PHK. Karena Tuhan Yesus sendiri menjamin hal itu. Perhatikan ayat berikut:
Matius 7:7, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."
Janji diatas merupakan salahsatu hak istimewa yang diberikan Tuhan bagi anak-anakNya. Keadaan telah di-PHK tidak dapat menghalangi Tuhan untuk memberikan hikmat -Nya. Pertanyaannya sampai sejauh mana kita bergantung pada Tuhan. Kadar ketergantungan kita menentukan kadar pencarian kita akan Tuhan dan hikmat -Nya.
Akhir kata ... Sangat disarankan untuk meningkatkan ketergantungan kita pada Tuhan di tengah badai keuangan di hari-hari ini.
penulis: Yohanes Prima