UANG EMAS DAN UANG PERAK PADA ZAMAN YESUS DI MASA PERJANJIAN BARU

Ketika membaca Perjanjian Baru, kita sering menemukan istilah seperti dinar, keping perak, atau peser. Bagi pembaca modern, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar asing. Padahal, memahami uang emas dan uang perak di masa Perjanjian Baru dapat membantu kita menangkap makna berbagai peristiwa penting dalam pelayanan Yesus, termasuk kisah Yudas Iskariot, perumpamaan para pekerja di kebun anggur, hingga persembahan janda miskin.

Pada abad pertama Masehi, wilayah Yudea berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Akibatnya, berbagai jenis mata uang beredar secara bersamaan. Ada koin Romawi, koin Yunani, hingga koin lokal yang digunakan untuk keperluan tertentu, termasuk ibadah di Bait Allah.

UANG EMAS, SIMBOL KEKAYAAN DAN KEKUASAAN

Koin emas yang paling terkenal pada masa itu adalah Aureus Romawi. Nilainya sangat tinggi sehingga hanya digunakan untuk transaksi besar, pembayaran kepada pejabat, perdagangan dalam jumlah besar, atau sebagai penyimpan kekayaan.

Meskipun Perjanjian Baru tidak secara khusus menyebut nama aureus, emas sering digunakan sebagai lambang kekayaan dan kemewahan. Yesus sendiri mengingatkan murid-murid-Nya agar tidak mengumpulkan emas sebagai bekal pelayanan (Matius 10:9). Hal ini menunjukkan bahwa emas sudah menjadi simbol kekayaan yang dikenal luas pada masa itu.

UANG PERAK YANG PALING SERING DISEBUT

Berbeda dengan emas, uang perak lebih banyak muncul dalam kisah-kisah Perjanjian Baru.
Yang paling terkenal adalah Denarius atau dinar Romawi. Koin perak ini biasanya setara dengan upah seorang pekerja selama satu hari. Karena itulah Yesus menggunakan dinar dalam perumpamaan pekerja di kebun anggur (Matius 20:2), sehingga para pendengar-Nya langsung memahami nilai upah tersebut.
Jenis lainnya adalah Syikal Tirus (Tyrian Shekel). Koin perak berkualitas tinggi ini digunakan untuk membayar pajak Bait Allah. Banyak ahli Alkitab meyakini bahwa koin inilah yang digunakan ketika Yesus membayar pajak Bait Allah melalui mukjizat ikan yang membawa sekeping uang di mulutnya (Matius 17:24–27).

MISTERI TIGA PULUH KEPING PERAK

Salah satu uang perak paling terkenal dalam Alkitab adalah tiga puluh keping perak yang diterima Yudas Iskariot sebagai imbalan karena mengkhianati Yesus (Matius 26:15).

Sebagian besar pakar sejarah berpendapat bahwa uang tersebut kemungkinan adalah Syikal Tirus. Jika benar demikian, nilainya cukup besar pada masa itu. Yang lebih penting lagi, jumlah tersebut menggenapi nubuat dalam Perjanjian Lama dan menjadi bagian penting dalam kisah penyaliban Kristus.

UANG KECIL YANG MENGAJARKAN IMAN BESAR

Tidak semua orang memiliki uang emas atau perak. Sebagian besar masyarakat menggunakan koin tembaga bernilai kecil.

Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah persembahan janda miskin yang memberikan dua lepton, yaitu koin dengan nilai paling rendah saat itu (Markus 12:42). Meski jumlahnya sangat kecil, Yesus memuji persembahan tersebut karena diberikan dengan hati yang tulus dan penuh iman.

Kisah ini menunjukkan bahwa nilai suatu persembahan di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh besarnya nominal, melainkan oleh ketulusan hati orang yang memberikannya.

Mempelajari uang emas dan uang perak di masa Perjanjian Baru bukan sekadar mengenal mata uang kuno. Setiap koin yang disebut dalam Alkitab membawa pesan rohani yang mendalam. Denarius mengajarkan tentang keadilan dalam bekerja, Syikal Tirus mengingatkan pentingnya ibadah, tiga puluh keping perak menjadi simbol pengkhianatan, sedangkan dua lepton dari janda miskin mengajarkan pengorbanan yang lahir dari iman.

Dengan memahami latar belakang sejarah mata uang pada zaman Yesus, pembaca dapat melihat bahwa setiap detail dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang memperkaya pemahaman akan Firman Tuhan serta konteks kehidupan masyarakat pada abad pertama.

Yedija Prima

seorang yang melayani Tuhan karena kehendak-Nya & karena Ia telah mati baginya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak